Mendaki 2000 Lebih Anak Tangga Untuk Menangis

Bagi sebagian orang, mendaki gunung dengan menapaki lebih dari 2000 anak tangga hanyalah pekerjaan yang membuang tenaga dan waktu saja, namun bagi orang-orang yang mengetahui sejarah dan menghormati Utusan TUHAN adalah sebuah kerinduan sejati. Ya itulah Gunung Katarina atau dalam bahasa arab dikenal dengan Jabal Musa. Gunung ini terletak di dataran Gurun Sinai Negara Mesir dan bersebelahan dengan Gunung Sinai (2285 m). Dikaki dari kedua gunung ini terdapat sebuah Biara Kristen Ortodok Santa Katarina yang dibangun oleh Ratu Helena (ibunda Kaisar Konstantin yang agung) sekitar abad ke 4 masehi.

Gunung dengan ketinggian 2642 m ini menjadi tantangan tersendiri bagi peserta wisata rohani. Bagaimana tidak, setelah dari pos awal pemberhetian bus, kita disuguhi dengan jalanan yang menanjak, berdebu dan berbatu serta kemiringan rata-rata 30 derajat. Sepanjang perjalanan jangan berharap menemui warna segar kehijauan, karena jikapun terdapat rerumputan itupun berwarna kering kecoklatan. Semakin keatas angin berhembus semakin kencang dengan udara yang kering dan dingin menusuk tulang sekitar 2-3 derajat celcius. Jalanan berkelok dan menanjak laksana menelusuri badan ular raksasa yang melingkari gunung, akan kita lalui hingga pos pemberhentian selanjutnya.

Setelah sejenak beristirahat, kita akan melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung Katarina (Jabal Musa) melalui anak tangga sekitar 2700 lebih dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Menurut informasi/gosip yang beredar, dalam menaiki anak tangga ini, jika kita mampu menaiki 20 anak tangga pertama tanpa berhenti, maka disinyalir kita tidak memiliki penyakit dalam dan untuk bermain sepak bola sangatlah bagus 😀 , kemudian jika kita mampu menaiki 10 anak tangga kemudian berhenti dan begitu seterusnya, maka itu lebih baik untuk kita bisa mencapai puncak gunung. Namun jika kedua nya tidak mampu kita lakukan, sebaiknya carilah onta untuk mengantar kita turun kembali ke pos pemberhentian bus :D.

Dalam melakukan pendakian ini, sebaiknya tidak perlu membawa ransum yang berlebih. Karena dipuncak Gunung Katarina (Jabal Musa) ini sudah terdapat warung-warung yang menjual air mineral, kopi, teh bahkan juga rokok 😀 .. yang jadi pertanyaan, bagaimana para pedagang ini membawa dagangannya ke puncak gunung? apakah tiap hari bolak balik? ternyata tidak, para pedagang ini membagi waktunya selama 2 minggu tinggal dipuncak gunung dan selebihnya tinggal dirumah.

Selain warung-warung ini, juga terdapat tempat ibadah untuk Agama Islam dan Agama Kristen. Mengapa demikian? Kita coba telusuri sejarah perjalanan Nabi Musa bersama Bani Israel setelah berhasil melewati Laut Merah karena dikejar-kejar oleh tentara Fir’aun. Dalam perjalanan menyusuri Gurung Sinai yang luas dan kering ini, berkali-kali Nabi Musa dihadapankan pada keluhan-keluhan orang-orang Bani Israel yang mengharuskan Nabi Musa mengadu kepada TUHAN dan memohon bantuan dan perlindungan. Dari berkali-kalinya kejadian pengaduan Nabi Musa kepada TUHAN, akhirnya TUHAN memerintahkan Nabi Musa untuk menghadap kepadaNYA diatas gunung. Nabi Musa bersemedi untuk ber-uzlah selama 40 hari dan menitipkan ummatnya Bani Israel kepada saudaranya Nabi Harun, meski akhirnya dikhianati oleh Samiri. Kisah ini terdapat didalam Islam dan Kristen, meski terdapat perbedaan penuturan.

Dipuncak gunung itulah terdapat tembok batu yang diyakini sebagai tempat ber-uzlah nya Nabi Musa selama 40 hari, meski sempat mendapat teguran keras dari TUHAN dengan meledakkan gunung hingga membuat beliau pingsan. Bekas ledakan itu masih nampak hingga sekarang, yakni berupa gunung-gunung anakan yang bentuk dan teksture bebatuannya seperti cair, hal ini dikarenakan terbentuk dari cairan-cairan lava akibat ledakan tersebut. Didekat tembok batu ini lah sering kali Ummat Islam beribadah kepada TUHAN dan berdo’a tanpa hentinya air mata bercucuran. Seolah merasa telah melakukan Mi’raj nya Nabi Muhammad dan merasa lebih dekat dengan TUHAN untuk menyampaikan segala hal pengaduan dan rasa syukur.

Pengalaman yang bisa didapatkan dalam perjalanan ini selain dari sisi Spritual, juga pengalaman Sosial yang dengan adanya warung-warung yang menjual minuman, makanan hingga rokok yang dapat membuat kita lebih bersyukur lagi kepada TUHAN, karena dahulu Nabi Musa dengan bekal Iman dan Kerinduan menapaki jalur ini menuju puncak gunung seorang diri, tanpa warung, minuman dan rokok 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *